Jumat, 22 Mei 2015

Lembar#1: Jiwa Yang Baru






2014 adalah angka penuh sejarah di hidup saya.

2012 merupakan awal persentuhan dengan dunia ekonomi, dunia kampus, dunia baru. Untuk menunjang jurusan, saya putuskan untuk masuk Komunitas Ekonomi Syariah (KES), Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Koperasi Mahasiswa (Kopma). Niatnya hanya satu: belajar.
2013 merupakah fase kejenuhan di ketiga organ tersebut. Hambar. Kering. Rasanya ingin cepat lulus saja. Malas terlibat lebih jauh. Sehingga amanah menjadi Ketua Bidang Bisnis KES diemban sekedarnya. Agenda bidang terbengkalai. Yang saya lakukan hanya satu: hadir di setiap kajian. Itu saja.

2014 digelar Musyawarah Besar (Mubes) atau perguliran kepengurusan di KES. Saya turut hadir. Lagi-lagi niatnya hanya satu: menyukseskan. Itu saja. Tidak kurang dan tidak lebih. Ketika bursa bakal calon ketua umum-baru ditampilkan di white board. Di sana turtulis beberapa nama. Yang mengejutkan dan membuat dahi berkerenyit, ada sebuah nama yang tentu saja tidak asing bagi diri saya. Tertulis: Rizal Umami.

Baiklah. Tapi saya mulai gusar kalau-kalau saya terpilih.

Detak-detik terasa melambat. Keringat menyembul. Gerah bercampur resah. Terpilih tiga besar calon. Masih tertulis nama saya di sana. Oh. Makin gusar.

Makin gerah. Tiba saat dimana ketiga calon ini memaparkan visi-misinya. Saya dapat urutan pertama untuk menyampaikan. Baiklah. Saya harus berpikir cepat untuk menyusun visi-misi saat itu juga. Bukan supaya terpilih. Tapi hanya untuk menyelamatkan muka. Setidaknya visi-misi saya tidak memalukan.

Dengan tergugu dan nada suara yang berat saya mulai bicara. Selesai. Tapi berantakan. Tidak semulus yang direncanakan. Terlalu gerogi dan deg-degan.

Voting dimulai...

Satu persatu gulungan kertas yang berisi pilihan dari peserta Mubes di buka. Nama ketiga calon bergantian disebut. Garis demi garis digoreskan pada white board tepat di depan nama ketiga calon. Tidak terlalu banyak selisih perolehan suara ketiganya. Tapi satu nama unggul. Dan secara otomatis dia yang bakal menerima estafeta kepemimpinan berikutnya.

"Barakallah, Rizal Umami!" pemandu Mubes menyebut sebuah nama.

Seketika lemas.

Bagaimana mungkin orang macam saya terpilih. Pemalu, malas, tidak pandai bicara, minim pengalaman, dan segudang sifat minus lainnya. Pemandu Mubes mempersilahkan ketua umum terpilih untuk menyampaikan sambutan perdananya.

Saya maju ke hadapan peserta Mubes dengan langkah perlahan karena gemetar. Tapi sebenarnya memang banyak yang harus saya sampaikan.

Beberapa menit berlalu dengan terus bicara. Mencoba memotivasi peserta, memberi garis besar KES ke depan, dan mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa amanah tidak akan salah memilih jiwa pengembannya. Membesarkan hati dengan mengabaikan segala keterbatasan, kelemahan, dan kekurangan yang masih melekat dalam diri. Karena kalau pun nanti saya tidak bisa memimpin sebaik pemimpin-pemimpin sebelumnya, setidaknya mereka akan mengenal pemimpinnya sebagai orang yang tidak tinggal diam karena keterbatasan dan kelemahan.

Saat itu, saya memutuskan untuk bangkit. Meninggalkan ketakutan dan keresahan yang selama belasan tahun menghantui.


Hari itu, saya seperti terlahir kembali.

___
doc:
saat hendak menyampaikan visi-misi

3 komentar:

Unknown mengatakan...

Semangat ka. Sukses!!! amiiin

Unknown mengatakan...

aamiin, terus menulis ripah!

Unknown mengatakan...

good luck, kak!
tapi, organisasi yang kk pernah ikuti selama di kampus hanya itu?

Posting Komentar