Di tepian jalan sering kita lihat bapak tukang ojek tercenung
sambil menunggui calon penumpang. Segurat ekspresi wajah penuh harap itu juga
membinar dan terkadang tersapu debu jika siang, atau tersinari temaram cahaya
kuning dari lampu-lampu pinggir jalan.
Jaketnya selalu melekat, helm dan motor yang tidak lagi bagus
terus menemani sepanjang hari. Tidak jarang kebosanan mengepung hati. Lelah
bercampur resah, takut kalau-kalau tidak satu pun penumpang yang bisa diantar.
Bagaimana nasib anak isterinya. Apa yang bisa dimasak malam ini?
Namun kerap kali dengan angkuhnya kita berlalu tanpa sepotong
senyum pun kita beri untuknya. Untuk sekedar memberi isyarat bahwa kita berucap
terima kasih atas tawaran jasanya. Atau setidaknya, kita menganggap bahwa ia
ada dan menjadi bagian dalam hidup ini. Bagian dalam hidup kita.
Coba bayangkan sejenak saja, betapa manisnya, jika antar kita
saling menghargai dan mempersembahkan senyuman paling tulus untuk orang
sekeliling. Dimanapun, kapanpun, dan selelah apapun diri. Sehingga yang lelah
pun bisa ikut tersenyum.

2 komentar:
siip kak Rizal :-)
Posting Komentar