Udara subuh ketika itu amat sejuk. Namun kucuran keringat
tetap menyembul dari tubuh para peserta Training
Manajemen Dakwah II (TMD2). Push up dan bending seperti teman baru yang sok
akrab. Berkali-kali kami berhenti untuk sejenak mengatur hela nafas saat
dikenai iqob (sanksi, atau hukuman), namun qiyadah (pemimpin, atau senior)
sepertinya sangat bersemangat memberi kami 'fitnes' gratis ini. Maka kami harusnya
lebih bersemangat melaksanakannya. Betul? Mm..
Setiap kesalahan yang kami lakukan, sekecil apapun itu, pasti
langsung disambut oleh qiyadah dengan, "Turun (sekian) porsi!", 1
porsi sama dengan 10 push up untuk ikhwan (laki-laki) atau 10 bending untuk
akhwat (perempuan). Bila ada yang bertanya bagaimana rasanya push up atau
bending sampai ratusan kali, maka tanyakan saja otot-otot tangan dan kaki kami yang
mulai mengembung. Sedikit.
Namun di sela-sela iqob, selalu saja ada kata-kata dari
qiyadah yang membuat kami kuat nerima. Membuat semangat kami yang sedang
kepayahan kembali melonjak-untuk beberapa detik. Karena aslinya memang kami
kepayahan.
Nikmat. Walau lelah
Seiring tenaga yang terkuras habis, ditambah pikiran yang
harus terfokus pada materi yang disampaikan, rasanya kelelahan hampir menemui
puncaknya. Namun kelelahan itu sekejap lenyap, ketika subuah energi besar
tiba-tiba hadir bersama senyuman kawan-kawan seperjuangan yang entah senyumnya
bertanda bahwa mereka 'tegar' atau sebenarnya itu sinyal bahwa sebentar lagi
mereka akan segera 'tepar'. Apapun itu, yang jelas ini membuka cara pandang
dari sudut lain, bahwa tidak ada sesuatu
yang benar-benar menyebalkan jika kita dapat mengambil pelajaran dari suatu kejadian
yang menimpa diri.
Maka sedikit demi sedikit kami mulai memahami makna iqob yang
kami terima. Bukan, bukan karena qiyadah benci lalu mereka memberi iqob
semaunya. Juga bukan karena dulu qiyadah mengalami hal yang sama seperti yang
kami alami saat ini, lalu qiyadah melampiaskan 'balas dendam' nya pada kami.
Coba perhatikan baik-baik dari mulai mimik, kata, dan gesturnya.. Ekspresi
marahnya terkesan dipaksakan, kata-katanya walau bernada tinggi tapi tak pernah
sampai melukai hati, gerak tubuhnya ketika memberi intruksi tak senatural
seperti biasanya. Maka kami sedikitnya yakin, tidak ada maksud lain di balik semua yang mereka lakukan, kecuali
karena mereka cintai kita. Dan
begitulah cara mereka mengungkapkan cintanya di moment TMD2 kemarin.
Setelah mengerti makna dari sikap qiyadah yang seperti itu,
maka rasanya tak ada iqob yang terlalu berat untuk dijalani, malah yang muncul
adalah nikmat merasai cinta yang senantiasa qiyadah hidangkan. Suara qiyadah
yang mirip guntur ber-volume tinggi, malah terdengar lembut ditelinga kami.
Seperti seorang ibu yang berkata pelan, tersenyum, sambil memeluk anaknya
"Ayo, push up ya nak, ini bukan hukuman, ibu hanya ingin agar kamu lebih
disiplin..."
Diskusi malam
Beberapa rangkai acara terlewati. Langit sudah gelap utuh.
Hanya rembulan dan beberapa lampu dari warung pinggir pantai yang jadi penerang
tempat diskusi malam itu. Kami duduk di atas pasir menghadap pantai. Lalu
seorang qiyadah maju untuk memendu diskusi. Beberapa tema menarik dibahas; 1)
Ghozwul Fikri dan Liberalisme, 2) Demokrasi dan Syariah, dan 3) Konsep Qiyadah
wal Jundiyah. Diskusi berjalan hangat, sesekali memanas, juga kadang sedikit
tak jelas arahnya terutama ketika membahas Demokrasi dan Syariah. Mungkin
karena tema itu amat kompleks pembahasannya bagi kami yang memang cukup jarang
berbincang soal itu.
Pemimpin diskusi dengan lugas memberi sanggahan, lalu
mengolah dan menyuguhkan pertanyaan yang sangat menggelitiki otak. Hasilnya
berbagai ide, gagasan, teknik, dan metode baru berhamburan di sana. Luar biasa!
Tapi kita juga tahu, semua itu tak ubahnya seperti dongeng 1001 malam pengantar
tidur, jika setelahnya tidak ada tindak lanjut dan aksi nyata yang akan
membenarkan ide, gagasan, teknik dan sebagainya itu. Benar apa betul? Rembulan
dan ombak ikut menyimak. Angin malam membelai, daun-daun melambai, pendar
cahaya bulan begitu lembut memancar. Hah! Suasana romantis muncul begitu alami.
Tak terasa malam melarut, hingga diskusi disudahi dengan closing statement dari seorang qiyadah
akhwat tentang Konsep Qiyadah wal Jundiyah.. Malam terasa cepat berlalu..
Sebelumnya kami mengira, agenda selanjutnya adalah istirahat atau tidur.
Ternyata masih ada satu agenda terakhir sebelum tidur, ialah muroja'ah (setor
hafalan). Yang belum hafal, siap-siap 'fitnes' malam. Malam kembali terasa
panjang..
Pukul 02:30 pagi
Kaget. Ketika tiba-tiba tenda tempat kami tidur dirobohkan.
Dengan mata yang belum terbuka sempurna kami berlari menuju tempat wudhu. Angin
sepertiga malam menghembus tangan, wajah, dan kaki yang baru saja dibasuhi
wudhu. Dinginnya bukan main. Saat sujud, sempat terdengar gigi kawan kami yang
menggemeretuk menahan dingin karena qiyamullail di tempat terbuka dekat pantai
tanpa jaket. Tapi sungguh, moment itu sangat berkesan. Beberapa dari kami masih
terlihat kesal dibangunkan oleh qiyadah sepagi itu. Tapi salah seorang di
antara kami berkata, "Semalam kita tidur waktu qiyadah masih jaga,
sekarang kita dibangunin qiyadah. Coba pikir, siapa yang lebih sedikit
tidurnya?"
Sekitar 03:00 pagi, kami sudah berada di bibir pantai untuk
beberapa simulasi tentang saling menjaga dan melindungi. Simulasi dimulai
dengan memegangi pundak kawan satu tim yang rata-rata terdiri dari lima orang.
Mata kami ditutup. Qiyadah saat itu berperan sebagai pengganggu dan berusaha
memisahkan seorang dari timnya. Maka tugas kami adalah bertahan, berusaha agar
hal itu tidak terjadi. Simulasi dimulai, kami berjibaku dengan qiyadah dan
seluruh elemen di pantai itu. Hampir satu jam simulasi ini bergulir. Lelah
sudah tak terkira, keringat yang dingin tertiup angin meleleh. Ombak menerjang
tubuh kami hingga tersungkur. Berdiri berat, merebah dingin. Haus benar-benar
terasa. Tapi semua itu samasekali bukan alasan untuk menyerah. Terlalu cemen.
Saat itu perasaan haru dan kesal menyatu. Haru karena melihat
kawan yang berusaha bertahan dan melindungi kawannya, rela sampai tubuhnya
terjepit, tertindih, ketika qiyadah terus mengganggu kami. Kesal, karena tak
bisa membantu kawan satu tim untuk berdiri. Perlahan mata pun menghangat saking
harunya, hampir saja air mata jatuh karena bergemuruh haru dalam dada. Lalu
sayup-sayup terdengar takbir yang tertahan dari mulut seorang kawan. Ini makin
menguatkan, bahwa tidak ada alasan untuk menyerah. Benar-benar tidak ada. Hingga
simulasi ini berakhir, kami tak
banyak berkata-kata. Hanya sunggingan senyum yang dapat mewakili ribuan kata
yang menyeruak di relung-relung hati ini. Mm. Kedengaran lebay?
Muhasabah
Adalah fitrah bagi tiap manusia untuk menangis dan tertawa.
Pagi itu, sebelum azan subuh berkumandang, kami berbaris di tepian pantai.
Seorang qiyadah maju ke hadapan kami semua. Beliau berbicara tentang dakwah,
tentang kami, dan tentang orangtua kami. Nada suaranya menggebu ketika bicara
soal dakwah. Qiyadah berhasil membuat jiwa kami bergetar hebat, seperti merapi
yang hendak memuntahkan lahar panas; jiwa kami bergemuruh, meledak-ledak.
Rasanya ingin sekali ketika itu berlari sekencang-sekancangnya menyongsong
panggilan Islam, menyambut seruan untuk merapat dan bahu-membahu di jalan
panjang para pejuang. Jalan yang konon selalu dihiasi debu dan keringat, air
mata, bahkan darah, untuk satu tujuan. Ya, untuk sebuah tujuan teragung. Demi
sebuah pertemuan yang dicita-citakan oleh banyak orang. Bertemu dengan Robbnya,
bertemu dengan Allah dan Rasulnya. ALLAHU AKBAR!!!
Takbir menggama memenuhi seisi langit. Nada suara qiyadah
perlahan mulai pelan ketika berutur tentang orang tua. Dan itu langsung
disambut dengan isak tangis, punggung kami berguncang menahan tangis yang
membuncah. Sosok orangtua hadir di benak. Ingin sekali saat itu juga memeluk
tubuhnya yang mulai melemah, mengecup pipinya, menghapus keringatnya. Duhai,
...
Muhasabah berakhir tepat ketika azan subuh berkumandang.
Semua berpelukan. Qiyadah dan peserta saling peluk (sesama akhwat/ikhwan).
Pesan-pesan dari qiyadah meluncur deras di sela-sela pelukan. Pesan-pesan itu
langsung masuk ke hati terdalam kami.. "Dakwah ini membutuhkan orang-orang
sepertimu, akhi.. Dakwah membutuhan orang-orang sepertimu, ukhti. Tetaplah
bersama kami, sampai Allah memenangkan dakwah ini.." Suasana mengharu biru
di penghujung TMD, semua tenggelam dalam lautan kata yang menyejukan.
***
Setelah langit agak cerah, tenda-tenda dikemasi, semua
peralatan dibereskan.. Kami semua ke pinggiran pantai untuk bermain, berfoto.
Semua ketegangan antara qiyadah dan peserta benar-benar mencair. Wajah-wajah
berseri kembali menghiasi. Di langit sana, pelangi melengkung begitu indah. Mata
kami seolah tersihir warna-warni itu. Namun tiba-tiba, hati kecil kami bertanya
resah,
"Who are the next generation? Who are the next leader?
Who are the next syahadah?"
Namun kemudian ia menjawab sendiri..
"You are, Akhi! You are, Ukhti!"
Pantai Tawing Suraga, 27/06/2013







0 komentar:
Posting Komentar