Kamis, 12 Maret 2015

Di Balik Layar TMD 2



Udara subuh ketika itu amat sejuk. Namun kucuran keringat tetap menyembul dari tubuh para peserta Training Manajemen Dakwah II (TMD2). Push up dan bending seperti teman baru yang sok akrab. Berkali-kali kami berhenti untuk sejenak mengatur hela nafas saat dikenai iqob (sanksi, atau hukuman), namun qiyadah (pemimpin, atau senior) sepertinya sangat bersemangat memberi kami 'fitnes' gratis ini. Maka kami harusnya lebih bersemangat melaksanakannya. Betul? Mm..

Setiap kesalahan yang kami lakukan, sekecil apapun itu, pasti langsung disambut oleh qiyadah dengan, "Turun (sekian) porsi!", 1 porsi sama dengan 10 push up untuk ikhwan (laki-laki) atau 10 bending untuk akhwat (perempuan). Bila ada yang bertanya bagaimana rasanya push up atau bending sampai ratusan kali, maka tanyakan saja otot-otot tangan dan kaki kami yang mulai mengembung. Sedikit.
Namun di sela-sela iqob, selalu saja ada kata-kata dari qiyadah yang membuat kami kuat nerima. Membuat semangat kami yang sedang kepayahan kembali melonjak-untuk beberapa detik. Karena aslinya memang kami kepayahan.



Nikmat. Walau lelah
Seiring tenaga yang terkuras habis, ditambah pikiran yang harus terfokus pada materi yang disampaikan, rasanya kelelahan hampir menemui puncaknya. Namun kelelahan itu sekejap lenyap, ketika subuah energi besar tiba-tiba hadir bersama senyuman kawan-kawan seperjuangan yang entah senyumnya bertanda bahwa mereka 'tegar' atau sebenarnya itu sinyal bahwa sebentar lagi mereka akan segera 'tepar'. Apapun itu, yang jelas ini membuka cara pandang dari sudut lain, bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar menyebalkan jika kita dapat mengambil pelajaran dari suatu kejadian yang menimpa diri.

Maka sedikit demi sedikit kami mulai memahami makna iqob yang kami terima. Bukan, bukan karena qiyadah benci lalu mereka memberi iqob semaunya. Juga bukan karena dulu qiyadah mengalami hal yang sama seperti yang kami alami saat ini, lalu qiyadah melampiaskan 'balas dendam' nya pada kami. Coba perhatikan baik-baik dari mulai mimik, kata, dan gesturnya.. Ekspresi marahnya terkesan dipaksakan, kata-katanya walau bernada tinggi tapi tak pernah sampai melukai hati, gerak tubuhnya ketika memberi intruksi tak senatural seperti biasanya. Maka kami sedikitnya yakin, tidak ada maksud lain di balik semua yang mereka lakukan, kecuali karena mereka cintai kita. Dan begitulah cara mereka mengungkapkan cintanya di moment TMD2 kemarin.

Setelah mengerti makna dari sikap qiyadah yang seperti itu, maka rasanya tak ada iqob yang terlalu berat untuk dijalani, malah yang muncul adalah nikmat merasai cinta yang senantiasa qiyadah hidangkan. Suara qiyadah yang mirip guntur ber-volume tinggi, malah terdengar lembut ditelinga kami. Seperti seorang ibu yang berkata pelan, tersenyum, sambil memeluk anaknya "Ayo, push up ya nak, ini bukan hukuman, ibu hanya ingin agar kamu lebih disiplin..."



Diskusi malam
Beberapa rangkai acara terlewati. Langit sudah gelap utuh. Hanya rembulan dan beberapa lampu dari warung pinggir pantai yang jadi penerang tempat diskusi malam itu. Kami duduk di atas pasir menghadap pantai. Lalu seorang qiyadah maju untuk memendu diskusi. Beberapa tema menarik dibahas; 1) Ghozwul Fikri dan Liberalisme, 2) Demokrasi dan Syariah, dan 3) Konsep Qiyadah wal Jundiyah. Diskusi berjalan hangat, sesekali memanas, juga kadang sedikit tak jelas arahnya terutama ketika membahas Demokrasi dan Syariah. Mungkin karena tema itu amat kompleks pembahasannya bagi kami yang memang cukup jarang berbincang soal itu.

Pemimpin diskusi dengan lugas memberi sanggahan, lalu mengolah dan menyuguhkan pertanyaan yang sangat menggelitiki otak. Hasilnya berbagai ide, gagasan, teknik, dan metode baru berhamburan di sana. Luar biasa! Tapi kita juga tahu, semua itu tak ubahnya seperti dongeng 1001 malam pengantar tidur, jika setelahnya tidak ada tindak lanjut dan aksi nyata yang akan membenarkan ide, gagasan, teknik dan sebagainya itu. Benar apa betul? Rembulan dan ombak ikut menyimak. Angin malam membelai, daun-daun melambai, pendar cahaya bulan begitu lembut memancar. Hah! Suasana romantis muncul begitu alami.

Tak terasa malam melarut, hingga diskusi disudahi dengan closing statement dari seorang qiyadah akhwat tentang Konsep Qiyadah wal Jundiyah.. Malam terasa cepat berlalu.. Sebelumnya kami mengira, agenda selanjutnya adalah istirahat atau tidur. Ternyata masih ada satu agenda terakhir sebelum tidur, ialah muroja'ah (setor hafalan). Yang belum hafal, siap-siap 'fitnes' malam. Malam kembali terasa panjang..

Pukul 02:30 pagi
Kaget. Ketika tiba-tiba tenda tempat kami tidur dirobohkan. Dengan mata yang belum terbuka sempurna kami berlari menuju tempat wudhu. Angin sepertiga malam menghembus tangan, wajah, dan kaki yang baru saja dibasuhi wudhu. Dinginnya bukan main. Saat sujud, sempat terdengar gigi kawan kami yang menggemeretuk menahan dingin karena qiyamullail di tempat terbuka dekat pantai tanpa jaket. Tapi sungguh, moment itu sangat berkesan. Beberapa dari kami masih terlihat kesal dibangunkan oleh qiyadah sepagi itu. Tapi salah seorang di antara kami berkata, "Semalam kita tidur waktu qiyadah masih jaga, sekarang kita dibangunin qiyadah. Coba pikir, siapa yang lebih sedikit tidurnya?"

Sekitar 03:00 pagi, kami sudah berada di bibir pantai untuk beberapa simulasi tentang saling menjaga dan melindungi. Simulasi dimulai dengan memegangi pundak kawan satu tim yang rata-rata terdiri dari lima orang. Mata kami ditutup. Qiyadah saat itu berperan sebagai pengganggu dan berusaha memisahkan seorang dari timnya. Maka tugas kami adalah bertahan, berusaha agar hal itu tidak terjadi. Simulasi dimulai, kami berjibaku dengan qiyadah dan seluruh elemen di pantai itu. Hampir satu jam simulasi ini bergulir. Lelah sudah tak terkira, keringat yang dingin tertiup angin meleleh. Ombak menerjang tubuh kami hingga tersungkur. Berdiri berat, merebah dingin. Haus benar-benar terasa. Tapi semua itu samasekali bukan alasan untuk menyerah. Terlalu cemen.

Saat itu perasaan haru dan kesal menyatu. Haru karena melihat kawan yang berusaha bertahan dan melindungi kawannya, rela sampai tubuhnya terjepit, tertindih, ketika qiyadah terus mengganggu kami. Kesal, karena tak bisa membantu kawan satu tim untuk berdiri. Perlahan mata pun menghangat saking harunya, hampir saja air mata jatuh karena bergemuruh haru dalam dada. Lalu sayup-sayup terdengar takbir yang tertahan dari mulut seorang kawan. Ini makin menguatkan, bahwa tidak ada alasan untuk menyerah. Benar-benar tidak ada. Hingga simulasi ini berakhir, kami tak banyak berkata-kata. Hanya sunggingan senyum yang dapat mewakili ribuan kata yang menyeruak di relung-relung hati ini. Mm. Kedengaran lebay?



Muhasabah
Adalah fitrah bagi tiap manusia untuk menangis dan tertawa. Pagi itu, sebelum azan subuh berkumandang, kami berbaris di tepian pantai. Seorang qiyadah maju ke hadapan kami semua. Beliau berbicara tentang dakwah, tentang kami, dan tentang orangtua kami. Nada suaranya menggebu ketika bicara soal dakwah. Qiyadah berhasil membuat jiwa kami bergetar hebat, seperti merapi yang hendak memuntahkan lahar panas; jiwa kami bergemuruh, meledak-ledak. Rasanya ingin sekali ketika itu berlari sekencang-sekancangnya menyongsong panggilan Islam, menyambut seruan untuk merapat dan bahu-membahu di jalan panjang para pejuang. Jalan yang konon selalu dihiasi debu dan keringat, air mata, bahkan darah, untuk satu tujuan. Ya, untuk sebuah tujuan teragung. Demi sebuah pertemuan yang dicita-citakan oleh banyak orang. Bertemu dengan Robbnya, bertemu dengan Allah dan Rasulnya. ALLAHU AKBAR!!!

Takbir menggama memenuhi seisi langit. Nada suara qiyadah perlahan mulai pelan ketika berutur tentang orang tua. Dan itu langsung disambut dengan isak tangis, punggung kami berguncang menahan tangis yang membuncah. Sosok orangtua hadir di benak. Ingin sekali saat itu juga memeluk tubuhnya yang mulai melemah, mengecup pipinya, menghapus keringatnya. Duhai, ...

Muhasabah berakhir tepat ketika azan subuh berkumandang. Semua berpelukan. Qiyadah dan peserta saling peluk (sesama akhwat/ikhwan). Pesan-pesan dari qiyadah meluncur deras di sela-sela pelukan. Pesan-pesan itu langsung masuk ke hati terdalam kami.. "Dakwah ini membutuhkan orang-orang sepertimu, akhi.. Dakwah membutuhan orang-orang sepertimu, ukhti. Tetaplah bersama kami, sampai Allah memenangkan dakwah ini.." Suasana mengharu biru di penghujung TMD, semua tenggelam dalam lautan kata yang menyejukan.
***
Setelah langit agak cerah, tenda-tenda dikemasi, semua peralatan dibereskan.. Kami semua ke pinggiran pantai untuk bermain, berfoto. Semua ketegangan antara qiyadah dan peserta benar-benar mencair. Wajah-wajah berseri kembali menghiasi. Di langit sana, pelangi melengkung begitu indah. Mata kami seolah tersihir warna-warni itu. Namun tiba-tiba, hati kecil kami bertanya resah,

"Who are the next generation? Who are the next leader? Who are the next syahadah?"

Namun kemudian ia menjawab sendiri..

"You are, Akhi! You are, Ukhti!"






Pantai Tawing Suraga, 27/06/2013

0 komentar:

Posting Komentar