2014
adalah angka penuh sejarah di hidup saya.
2012
merupakan awal persentuhan dengan dunia ekonomi, dunia kampus, dunia baru.
Untuk menunjang jurusan, saya putuskan untuk masuk Komunitas Ekonomi Syariah
(KES), Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Koperasi Mahasiswa (Kopma). Niatnya
hanya satu: belajar.
2013
merupakah fase kejenuhan di ketiga organ tersebut. Hambar. Kering. Rasanya
ingin cepat lulus saja. Malas terlibat lebih jauh. Sehingga amanah menjadi
Ketua Bidang Bisnis KES diemban sekedarnya. Agenda bidang terbengkalai. Yang
saya lakukan hanya satu: hadir di setiap kajian. Itu saja.
2014
digelar Musyawarah Besar (Mubes) atau perguliran kepengurusan di KES. Saya
turut hadir. Lagi-lagi niatnya hanya satu: menyukseskan. Itu saja. Tidak kurang
dan tidak lebih. Ketika bursa bakal calon ketua umum-baru ditampilkan di white
board. Di sana turtulis beberapa nama. Yang mengejutkan dan membuat dahi
berkerenyit, ada sebuah nama yang tentu saja tidak asing bagi diri saya.
Tertulis: Rizal Umami.
Baiklah.
Tapi saya mulai gusar kalau-kalau saya terpilih.
Detak-detik
terasa melambat. Keringat menyembul. Gerah bercampur resah. Terpilih tiga besar
calon. Masih tertulis nama saya di sana. Oh. Makin gusar.
Makin
gerah. Tiba saat dimana ketiga calon ini memaparkan visi-misinya. Saya dapat
urutan pertama untuk menyampaikan. Baiklah. Saya harus berpikir cepat untuk
menyusun visi-misi saat itu juga. Bukan supaya terpilih. Tapi hanya untuk
menyelamatkan muka. Setidaknya visi-misi saya tidak memalukan.
Dengan
tergugu dan nada suara yang berat saya mulai bicara. Selesai. Tapi berantakan.
Tidak semulus yang direncanakan. Terlalu gerogi dan deg-degan.
Voting
dimulai...
Satu
persatu gulungan kertas yang berisi pilihan dari peserta Mubes di buka. Nama
ketiga calon bergantian disebut. Garis demi garis digoreskan pada white board
tepat di depan nama ketiga calon. Tidak terlalu banyak selisih perolehan suara
ketiganya. Tapi satu nama unggul. Dan secara otomatis dia yang bakal menerima
estafeta kepemimpinan berikutnya.
"Barakallah,
Rizal Umami!" pemandu Mubes menyebut sebuah nama.
Seketika
lemas.
Bagaimana mungkin orang macam saya terpilih. Pemalu, malas, tidak pandai
bicara, minim pengalaman, dan segudang sifat minus lainnya. Pemandu Mubes
mempersilahkan ketua umum terpilih untuk menyampaikan sambutan perdananya.
Saya
maju ke hadapan peserta Mubes dengan langkah perlahan karena gemetar. Tapi
sebenarnya memang banyak yang harus saya sampaikan.
Beberapa
menit berlalu dengan terus bicara. Mencoba memotivasi peserta, memberi garis
besar KES ke depan, dan mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa amanah tidak akan
salah memilih jiwa pengembannya. Membesarkan hati dengan mengabaikan segala
keterbatasan, kelemahan, dan kekurangan yang masih melekat dalam diri. Karena
kalau pun nanti saya tidak bisa memimpin sebaik pemimpin-pemimpin sebelumnya,
setidaknya mereka akan mengenal pemimpinnya sebagai orang yang tidak tinggal
diam karena keterbatasan dan kelemahan.
Saat
itu, saya memutuskan untuk bangkit. Meninggalkan ketakutan dan keresahan yang selama
belasan tahun menghantui.
Hari
itu, saya seperti terlahir kembali.
___
doc:
![]() |
| saat hendak menyampaikan visi-misi |

3 komentar:
Semangat ka. Sukses!!! amiiin
aamiin, terus menulis ripah!
good luck, kak!
tapi, organisasi yang kk pernah ikuti selama di kampus hanya itu?
Posting Komentar