Nongkrong
di koridor kelas, bergaya sedikit alay, suit-suitin cewek yang lewat, melorotin
celana temennya pas jam olahraga, dan segudang tingkah konyol nan mengesankan
lainnya tiba-tiba muncul. Memori itu hadir ketika saya membuka sebuah folder
usang berjudul “Perpisahan SMA”. Setiap foto dalam folder itu serasa hidup dan
berkata, “Hei kawan, ayo main lagi!”.
Kamis, 12 Maret 2015
Di Balik Layar TMD 2
Udara subuh ketika itu amat sejuk. Namun kucuran keringat
tetap menyembul dari tubuh para peserta Training
Manajemen Dakwah II (TMD2). Push up dan bending seperti teman baru yang sok
akrab. Berkali-kali kami berhenti untuk sejenak mengatur hela nafas saat
dikenai iqob (sanksi, atau hukuman), namun qiyadah (pemimpin, atau senior)
sepertinya sangat bersemangat memberi kami 'fitnes' gratis ini. Maka kami harusnya
lebih bersemangat melaksanakannya. Betul? Mm..
Di Tulis Di Akhir Tahun 2020
Yayasan ODOT (One Day One Thousand) Indonesia yang sejak lima tahun yang lalu
digagas dengan perpeluh dan berjibaku dengan banyak hal mendebarkan akhirnya
berbuah hasil. Memang tidak mudah. Tapi semua kemajuan memang butuh perjuangan.
Di dunia ini tidak ada yang gratis, kata meraka yang berpaham matrealis. Dalam
hal ini saya juga sepakat, bahwa pencapaian besar mesti ditempuh dengan
kerja-kerja nyata yang istiqomah, langkah-langkah yang terus diayunkan. Sekecil
apapun langkah yang terpijak pasti ia akan membuat suatu kamajuan. Meski kecil.
Keluarga dan Potongan Kisah yang Mengental
Saya mencintai
seluruhnya. Bapak, ibu, Teh Nita, nenek, tiga orang paman dan tiga bibi.
Bersama mereka adalah anugerah yang tidak terkira. Dilahirkan di tengah-tengah
mereka adalah sebuah takdir yang menakjubkan. Syukur, Alhamdulillah.
Bapak, tubuhnya tidak
begitu tinggi, tidak juga pendek. Berjanggut dan tentu berkumis. Bila baru
dicukur, ketika mencium pipi akan terasa sangat geli dan tidak jarang membuat
saya tertawa hanya karena dicium. Rajin membaca dan rajin mencukur juga. He he!
Si Kecil yang Mulai Berani
1994
adalah tahun dimana saya dilahirkan. Tertanggal 9 Nopember tapatnya pertama
kali membuka mulut untuk menangis. Entah menangisi apa sebenarnya. Tidak ada
keturunan cina atau kulit hitam di keluarga. Maka saya lahir sebagai lelaki
berkulit tidak terlalu putih, juga tidak hitam mencolok. Rambut jelas hitam,
tidak bergelombang atau berombak. Hanya beberapa bagian yang kadang terlihat
melandai. Tidak memalukan, malah cenderung menarik. Bagi saya tentunya.
Langganan:
Postingan (Atom)



