Jumat, 28 Agustus 2015

Sepotong Senyum Untuk Yang Lelah Menanti


Di tepian jalan sering kita lihat bapak tukang ojek tercenung sambil menunggui calon penumpang. Segurat ekspresi wajah penuh harap itu juga membinar dan terkadang tersapu debu jika siang, atau tersinari temaram cahaya kuning dari lampu-lampu pinggir jalan.
Jaketnya selalu melekat, helm dan motor yang tidak lagi bagus terus menemani sepanjang hari. Tidak jarang kebosanan mengepung hati. Lelah bercampur resah, takut kalau-kalau tidak satu pun penumpang yang bisa diantar. Bagaimana nasib anak isterinya. Apa yang bisa dimasak malam ini?
Namun kerap kali dengan angkuhnya kita berlalu tanpa sepotong senyum pun kita beri untuknya. Untuk sekedar memberi isyarat bahwa kita berucap terima kasih atas tawaran jasanya. Atau setidaknya, kita menganggap bahwa ia ada dan menjadi bagian dalam hidup ini. Bagian dalam hidup kita.
Coba bayangkan sejenak saja, betapa manisnya, jika antar kita saling menghargai dan mempersembahkan senyuman paling tulus untuk orang sekeliling. Dimanapun, kapanpun, dan selelah apapun diri. Sehingga yang lelah pun bisa ikut tersenyum.


Malu Tapi Bangga



Adalah keberadaan orang-orang sekitar yang membuatku menulis judul semacam itu. Membuatku malu dan bangga sekaligus.
Rupanya kisah-kisah yang dahulu kuanggap heroik jadi biasa saja kini. Karena belakangan, di depan mata sering disajikan kisah yang jaaauh lebih heroik. Hebat dan menakjubkan.
Kisah itu ditoreh oleh mereka yang masih semester belia tapi punya letupan semangat yang tidak ada duanya. Akselerasi "penggalian" potensi kader rupanya berjalan dengan mulus. Alhamdulillah. Amanah yang mereka tunaikan selalu sesuai dengan ekspektasi.
Akhirnya, ingin sekali aku bisikkan untuk mereka, "Antum ruhul jadiid fi jassadil ummat.."
Selamat datang, kalian adalah ruh baru dalam tubuh ummat.


Jumat, 22 Mei 2015

Lembar#3: Di Balik Tagline 'BERKAH'


"Membumikan Islam dalam bidang ekonomi". Itulah visi besar, atau bolehlah dikatakan goal dari segala aktivitas yang digerakkan oleh teman-teman Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) di masing-masing kampusnya.

Lembar#1: Jiwa Yang Baru






2014 adalah angka penuh sejarah di hidup saya.

2012 merupakan awal persentuhan dengan dunia ekonomi, dunia kampus, dunia baru. Untuk menunjang jurusan, saya putuskan untuk masuk Komunitas Ekonomi Syariah (KES), Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Koperasi Mahasiswa (Kopma). Niatnya hanya satu: belajar.

Lembar#2: Memulai Penerbangan


Hari-hari pasca mubes saya gunakan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya referesi. Menyerap sebanyak-banyaknya energi dari PERPUSTAKAAN, MASJID dan PASAR.
Karena ketiga tempat itu punya ENERGI besar yang bisa mengisi ceruk jiwa. Perpustakaan terkait dengan INTELEKTUALITAS. Masjid terkait dengan SPIRITUALITAS. Dan pasar tekait dengan EMOSIONAL, karena bersentuhan langsung dengan banyak orang.

Kamis, 12 Maret 2015

Garis Misteri Hidup Kita


Nongkrong di koridor kelas, bergaya sedikit alay, suit-suitin cewek yang lewat, melorotin celana temennya pas jam olahraga, dan segudang tingkah konyol nan mengesankan lainnya tiba-tiba muncul. Memori itu hadir ketika saya membuka sebuah folder usang berjudul “Perpisahan SMA”. Setiap foto dalam folder itu serasa hidup dan berkata, “Hei kawan, ayo main lagi!”.

Di Balik Layar TMD 2



Udara subuh ketika itu amat sejuk. Namun kucuran keringat tetap menyembul dari tubuh para peserta Training Manajemen Dakwah II (TMD2). Push up dan bending seperti teman baru yang sok akrab. Berkali-kali kami berhenti untuk sejenak mengatur hela nafas saat dikenai iqob (sanksi, atau hukuman), namun qiyadah (pemimpin, atau senior) sepertinya sangat bersemangat memberi kami 'fitnes' gratis ini. Maka kami harusnya lebih bersemangat melaksanakannya. Betul? Mm..