1994
adalah tahun dimana saya dilahirkan. Tertanggal 9 Nopember tapatnya pertama
kali membuka mulut untuk menangis. Entah menangisi apa sebenarnya. Tidak ada
keturunan cina atau kulit hitam di keluarga. Maka saya lahir sebagai lelaki
berkulit tidak terlalu putih, juga tidak hitam mencolok. Rambut jelas hitam,
tidak bergelombang atau berombak. Hanya beberapa bagian yang kadang terlihat
melandai. Tidak memalukan, malah cenderung menarik. Bagi saya tentunya.
Konon
saya tergolong anak cerdas. Agak terbukti ketika masa-masa sekolah dasar.
Rangking satu dua dan tiga pernah saya tempati. Jadi ketua kelas sudah
lengganannya. Tergolong siswa yang baik hati dan tidak pernah membuat guru
kesal, apalagi sampai dilempar penghapus olehnya. Tidak pernah terlintas,
sekalipun dalam mimpi. Tidak pernah membuat teman menangis, malah lebih sering
jadi teman curhat. Meski tidak selalu memberi solusi, namun setidaknya bisa
menjadi pendengar yang baik. Kadang menusia hanya butuh didengar, bukan? Lalu
sebagian persoalannya terasa ringan dengan sendirinya setelah keluh kesahnya tertumpah
dengan teman yang dengan setia mendengar. Saya menikmati karakter ini sampai
dewasa. Terasa cukup menentramkan bagi hidup saya.
Sesekali.
Atau seringkali kadang-kadang. Oh maaf agak rancu. Itu memang sifat buruk yang
mengendap dalam diri. Kurang tegas menyampaikan sesuatu. Banyak pertimbangan
ini-itu. terlalu berpikir bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu dan
seterusnya. Semacam sifat penakut dan ini cukup menyiksa. Selalu ada peperangan
dalam batin, antara ambisi untuk maju dengan ketakutan yang tak masuk akal. Dan
itu terjadi dalam satu tubuh. Cukup dramatis. Tetapi ada pihak ketiga yang
kadang membisik, “Udah ga usah banyak mikir. Kalau baik ya jalani.” Sesimpel
itu. Dan sesimpel itu pula saya menurutinya. Akhirnya kadang begitu mudah
mencampakkan rasa takut. Mungkin bagian ini tidak begitu menarik untuk dibaca,
tapi sangat seru untuk dirasakan si empunya jasad. Seperti ada adegan film action dalam tubuh dan bila
di-visualisasikan akan sangat menarik, seperti menonton perang besar antara
bangsa penakut yang kepepet nyerang, dengan bangsa pemberani yang malas
meladeni. Mungkin agak rumit untuk dibayangkan. Maka mari lupakan saja.
Tahun
2015 adalah tahun penuh impian. Dan otomatis tahun penuh peperangan juga.
Dengan apa? dengan segenap ketakutan. Tapi belakangan, rasanya sudah terlalu
terbiasa menghadapinya. Sehingga tidak ada yang perlu dipikirkan. Hanya perlu
dikerjakan, terjang dan tetap melangkah. Manusia sesekali memang perlu seperti
kuda dengan kacamata antiknya. Focus ke depan dan tidak usah memikirkan
perasaan yang begitu menggoda agar tidak usah maju, mending santai di rumah,
mending lamar kerja, menikah, tua, dan seterusnya. Layaknya siklus hidup orang
biasa.
“Maju,
maju, maju!”
Itu
suara si pemberani yang sekarang mulai tumbuh dalam jasad ini. Meronta-ronta
ingin lepas dan berlalari kencang menyongsong hal-hal hebat di hidup. Saya
mulai senang menuruti apa katanya. Karena seringkali jika diperturutkan dia
akan membawa saya pada sebuah perjalanan adrenalin yang menakjubkan, bikin
deg-degan, dan membuka banyak kejutan. Meski kadang memalukan.

3 komentar:
Si kecil yang telah dewasa kini pandai bercerita. :D kisah masa kanak2 memang luar biasa Dan ketika kita dewasa kisah itu bisa terulang dengan cerita..
Keren, kaa ^_^
ayo ceritakan kisah masa kecilmu, Fika! :D
cerita sedang diproses ;)
sabar ya, kaa :D
Posting Komentar