Kamis, 12 Maret 2015

Si Kecil yang Mulai Berani



1994 adalah tahun dimana saya dilahirkan. Tertanggal 9 Nopember tapatnya pertama kali membuka mulut untuk menangis. Entah menangisi apa sebenarnya. Tidak ada keturunan cina atau kulit hitam di keluarga. Maka saya lahir sebagai lelaki berkulit tidak terlalu putih, juga tidak hitam mencolok. Rambut jelas hitam, tidak bergelombang atau berombak. Hanya beberapa bagian yang kadang terlihat melandai. Tidak memalukan, malah cenderung menarik. Bagi saya tentunya.

Konon saya tergolong anak cerdas. Agak terbukti ketika masa-masa sekolah dasar. Rangking satu dua dan tiga pernah saya tempati. Jadi ketua kelas sudah lengganannya. Tergolong siswa yang baik hati dan tidak pernah membuat guru kesal, apalagi sampai dilempar penghapus olehnya. Tidak pernah terlintas, sekalipun dalam mimpi. Tidak pernah membuat teman menangis, malah lebih sering jadi teman curhat. Meski tidak selalu memberi solusi, namun setidaknya bisa menjadi pendengar yang baik. Kadang menusia hanya butuh didengar, bukan? Lalu sebagian persoalannya terasa ringan dengan sendirinya setelah keluh kesahnya tertumpah dengan teman yang dengan setia mendengar. Saya menikmati karakter ini sampai dewasa. Terasa cukup menentramkan bagi hidup saya.

Sesekali. Atau seringkali kadang-kadang. Oh maaf agak rancu. Itu memang sifat buruk yang mengendap dalam diri. Kurang tegas menyampaikan sesuatu. Banyak pertimbangan ini-itu. terlalu berpikir bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu dan seterusnya. Semacam sifat penakut dan ini cukup menyiksa. Selalu ada peperangan dalam batin, antara ambisi untuk maju dengan ketakutan yang tak masuk akal. Dan itu terjadi dalam satu tubuh. Cukup dramatis. Tetapi ada pihak ketiga yang kadang membisik, “Udah ga usah banyak mikir. Kalau baik ya jalani.” Sesimpel itu. Dan sesimpel itu pula saya menurutinya. Akhirnya kadang begitu mudah mencampakkan rasa takut. Mungkin bagian ini tidak begitu menarik untuk dibaca, tapi sangat seru untuk dirasakan si empunya jasad. Seperti ada adegan film action dalam tubuh dan bila di-visualisasikan akan sangat menarik, seperti menonton perang besar antara bangsa penakut yang kepepet nyerang, dengan bangsa pemberani yang malas meladeni. Mungkin agak rumit untuk dibayangkan. Maka mari lupakan saja.

Tahun 2015 adalah tahun penuh impian. Dan otomatis tahun penuh peperangan juga. Dengan apa? dengan segenap ketakutan. Tapi belakangan, rasanya sudah terlalu terbiasa menghadapinya. Sehingga tidak ada yang perlu dipikirkan. Hanya perlu dikerjakan, terjang dan tetap melangkah. Manusia sesekali memang perlu seperti kuda dengan kacamata antiknya. Focus ke depan dan tidak usah memikirkan perasaan yang begitu menggoda agar tidak usah maju, mending santai di rumah, mending lamar kerja, menikah, tua, dan seterusnya. Layaknya siklus hidup orang biasa.

“Maju, maju, maju!”


Itu suara si pemberani yang sekarang mulai tumbuh dalam jasad ini. Meronta-ronta ingin lepas dan berlalari kencang menyongsong hal-hal hebat di hidup. Saya mulai senang menuruti apa katanya. Karena seringkali jika diperturutkan dia akan membawa saya pada sebuah perjalanan adrenalin yang menakjubkan, bikin deg-degan, dan membuka banyak kejutan. Meski kadang memalukan.

3 komentar:

Unknown mengatakan...

Si kecil yang telah dewasa kini pandai bercerita. :D kisah masa kanak2 memang luar biasa Dan ketika kita dewasa kisah itu bisa terulang dengan cerita..
Keren, kaa ^_^

Unknown mengatakan...

ayo ceritakan kisah masa kecilmu, Fika! :D

Unknown mengatakan...

cerita sedang diproses ;)
sabar ya, kaa :D

Posting Komentar