Saya mencintai
seluruhnya. Bapak, ibu, Teh Nita, nenek, tiga orang paman dan tiga bibi.
Bersama mereka adalah anugerah yang tidak terkira. Dilahirkan di tengah-tengah
mereka adalah sebuah takdir yang menakjubkan. Syukur, Alhamdulillah.
Bapak, tubuhnya tidak
begitu tinggi, tidak juga pendek. Berjanggut dan tentu berkumis. Bila baru
dicukur, ketika mencium pipi akan terasa sangat geli dan tidak jarang membuat
saya tertawa hanya karena dicium. Rajin membaca dan rajin mencukur juga. He he!
Ibu, tidak lebih tinggi
dari bapak. Saat saya masih kanak-kanak, ibu lebih sering marah-marah. Entah
karena kenakalan saya atau memang ibu yang hobinya marah? Tapi setelah saya
tumbuh remaja, yang dominan dari sifat
ibu adalah penyayang dan sangat pengertian. Berarti saya nakal saat masa kanak.
Wajar. Anak-anak belum paham mana yang baik dan mana yang buruk. *membela diri.
Teh Nita, adalah satu-satunya
model dalam bidang akademik. Mulai MI sampai tingkat SMA kita ada di satu
sekolah yang sama. Hanya kuliah yang kita putuskan harus berpisah kampus.
Karena tidak mungkin juga saya ikut kuliah kebidanan. Berangkat dan pulang
bersama. Kemagriban bersama. Kehujanan bersama. Dorong motor yang mogok
bersama. Dan banyak hal yang ditempuh bersama-sama.
Tiga paman dan tiga bibi,
mereka punya sifat yang berbeda satu sama lain. Mereka punya banyak peran di
hidup saya. Mereka menyaksikan secara langsung proses pertumbuhan saya sejak
kecil sampai dewasa ini. Bahkan kadang menggantikan peran bapak ibu, saat bapak
dan ibu sedang tidak di rumah.
Hal yang membuat
keluarga ini sepesial adalah:
- Kalau
ribut, cepat baikannya.
- Kalau
ada yang susah, semangat gotong royongnya berkobar-kobar,
- Kalau
dapat makanan, dibagi-bagikan.
- Yang
berkesempatan kuliah hanya saya dan Teh Nita. Mereka dengan segenap
pengharapan dan kelapangdadaan, mengurus dan membiayai kuliah kami. Malu.
Haru. Rindu. Jadi berpadu.
Banyak hal yang bisa
saya serap dari spirit hidup mereka. Bapak dan ibu yang rela meninggalkan
negeri tempat mereka dilahirkan, demi keberlangsungan hidup dan kelayakan
pendidikan bagi anak-anaknya. Paman yang bekerja puluhan tahun, kesana-kemari
mencari nafkah untuk isterinya. Bibi yang berjualan di sela waktu mengurus
anaknya. Semua adalah inspirasi. Semuanya pelajaran hidup yang mesti dipetik.
Kebanyakan dari kita telah mengagumi motivator, pembicara, trainer yang
berharap betul bisa meningkatkan motivasinya. Tapi lupa dengan motivator di
rumahnya sendiri. Yang menyempatkan bersepi-sepi, menangis di sepertiga malam
demi mengadu kepada Rabb-nya. Berhemat
demi kelanjutan sekolahnya. Menahan lapar saat bekerja. Dan bermacam
pengorbanan lain yang kisahnya mereka simpan sendiri.
Semua yang mereka
ajarkan sekarang seperti mengkristal dalam diri. Maka saya dibentuk oleh
nilai-nilai hidup yang mereka tanam. Saya terdiri dari bermacam nilai. Tersusun
dari berbagai kisah. Ada seperempat jiwa pedagang, seperempat jiwa pekerja,
seperempat jiwa ‘ustad’, seperempat lagi jiwa yang masih saya kosongkan. Mungkin
akan diisi oleh belahan jiwa?
Setiap manusia memang
terdiri deri berbagai kisah. Potongan-potongan kejadian. Mau tidak mau, suka
tidak suka, potongan-potongan kisah akan membentuk jiwa seseorang. Mari ciptakan kisah terbaik. Agar bisa diceritakan secara suka cita kepada anak-cucu kita
kelak.

2 komentar:
Keerenn... (y)
Bener banget, untung pas kuliah beda kampus sm Teh Nita. Kebayangkan kalau Kk satu kampus :D
jadi pak bidan nanti :D
Posting Komentar