Kamis, 12 Maret 2015

Keluarga dan Potongan Kisah yang Mengental




Saya mencintai seluruhnya. Bapak, ibu, Teh Nita, nenek, tiga orang paman dan tiga bibi. Bersama mereka adalah anugerah yang tidak terkira. Dilahirkan di tengah-tengah mereka adalah sebuah takdir yang menakjubkan. Syukur, Alhamdulillah.

Bapak, tubuhnya tidak begitu tinggi, tidak juga pendek. Berjanggut dan tentu berkumis. Bila baru dicukur, ketika mencium pipi akan terasa sangat geli dan tidak jarang membuat saya tertawa hanya karena dicium. Rajin membaca dan rajin mencukur juga. He he!

Ibu, tidak lebih tinggi dari bapak. Saat saya masih kanak-kanak, ibu lebih sering marah-marah. Entah karena kenakalan saya atau memang ibu yang hobinya marah? Tapi setelah saya tumbuh remaja, yang dominan  dari sifat ibu adalah penyayang dan sangat pengertian. Berarti saya nakal saat masa kanak. Wajar. Anak-anak belum paham mana yang baik dan mana yang buruk. *membela diri.

Teh Nita, adalah satu-satunya model dalam bidang akademik. Mulai MI sampai tingkat SMA kita ada di satu sekolah yang sama. Hanya kuliah yang kita putuskan harus berpisah kampus. Karena tidak mungkin juga saya ikut kuliah kebidanan. Berangkat dan pulang bersama. Kemagriban bersama. Kehujanan bersama. Dorong motor yang mogok bersama. Dan banyak hal yang ditempuh bersama-sama.

Tiga paman dan tiga bibi, mereka punya sifat yang berbeda satu sama lain. Mereka punya banyak peran di hidup saya. Mereka menyaksikan secara langsung proses pertumbuhan saya sejak kecil sampai dewasa ini. Bahkan kadang menggantikan peran bapak ibu, saat bapak dan ibu sedang  tidak di rumah.
Hal yang membuat keluarga ini sepesial adalah:
  1. Kalau ribut, cepat baikannya.
  2. Kalau ada yang susah, semangat gotong royongnya berkobar-kobar,
  3. Kalau dapat makanan, dibagi-bagikan.
  4. Yang berkesempatan kuliah hanya saya dan Teh Nita. Mereka dengan segenap pengharapan dan kelapangdadaan, mengurus dan membiayai kuliah kami. Malu. Haru. Rindu. Jadi berpadu.
Banyak hal yang bisa saya serap dari spirit hidup mereka. Bapak dan ibu yang rela meninggalkan negeri tempat mereka dilahirkan, demi keberlangsungan hidup dan kelayakan pendidikan bagi anak-anaknya. Paman yang bekerja puluhan tahun, kesana-kemari mencari nafkah untuk isterinya. Bibi yang berjualan di sela waktu mengurus anaknya. Semua adalah inspirasi. Semuanya pelajaran hidup yang mesti dipetik. Kebanyakan dari kita telah mengagumi motivator, pembicara, trainer yang berharap betul bisa meningkatkan motivasinya. Tapi lupa dengan motivator di rumahnya sendiri. Yang menyempatkan bersepi-sepi, menangis di sepertiga malam demi mengadu kepada Rabb-nya. Berhemat demi kelanjutan sekolahnya. Menahan lapar saat bekerja. Dan bermacam pengorbanan lain yang kisahnya mereka simpan sendiri.

Semua yang mereka ajarkan sekarang seperti mengkristal dalam diri. Maka saya dibentuk oleh nilai-nilai hidup yang mereka tanam. Saya terdiri dari bermacam nilai. Tersusun dari berbagai kisah. Ada seperempat jiwa pedagang, seperempat jiwa pekerja, seperempat jiwa ‘ustad’, seperempat lagi jiwa yang masih saya kosongkan. Mungkin akan diisi oleh belahan jiwa?

Setiap manusia memang terdiri deri berbagai kisah. Potongan-potongan kejadian. Mau tidak mau, suka tidak suka, potongan-potongan kisah akan membentuk jiwa seseorang. Mari ciptakan kisah terbaik. Agar bisa diceritakan secara suka cita kepada anak-cucu kita kelak.

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Keerenn... (y)
Bener banget, untung pas kuliah beda kampus sm Teh Nita. Kebayangkan kalau Kk satu kampus :D

Unknown mengatakan...

jadi pak bidan nanti :D

Posting Komentar