Kamis, 12 Maret 2015

Di Tulis Di Akhir Tahun 2020




Yayasan ODOT (One Day One Thousand) Indonesia yang sejak lima tahun yang lalu digagas dengan perpeluh dan berjibaku dengan banyak hal mendebarkan akhirnya berbuah hasil. Memang tidak mudah. Tapi semua kemajuan memang butuh perjuangan. Di dunia ini tidak ada yang gratis, kata meraka yang berpaham matrealis. Dalam hal ini saya juga sepakat, bahwa pencapaian besar mesti ditempuh dengan kerja-kerja nyata yang istiqomah, langkah-langkah yang terus diayunkan. Sekecil apapun langkah yang terpijak pasti ia akan membuat suatu kamajuan. Meski kecil.

Memiliki yayasan amal memang bagian dari impian saya. Mengelus kepala anak-anak yang lucu, anak yatim, dhuafa, atau anak-anak yang ingin belajar, terlepas apapun status mereka. Kini saya benar-benar menikmati hidup. Punya yayasan, pesantren wirausaha dan sebuah rumah makan besar yang memiliki cukup banyak cabang. Mulanya enggan sekali melawan segala keterbatasan diri. Namun pada akhirnya, dorongan besar yang dipicu oleh sebuah impian membuat diri nekat dan memberanikan diri untuk menerjang apapun yang mesti ditaklukan. Tidak mudah. Memang begitu sunatullahnya. Sunatullah juga bahwa tidak berubah nasib seseorang bila ia sendiri tidak berusaha merubahnya. Cukup adil.

Rumah yang cukup nyaman, dengan taman-taman yang luas yang dipakai untuk taman pemdidikan bagi anak-anak dan remaja terasa begitu menyejukkan. Terus terang saja, sempat terpikir bahwa saya seperti sedang berada di surga. Lantunan ayat al-Qur’an dari mulut mungil anak-anak serasa seperti alunan nada yang tidak ada tandingnya. Jauh lebih nikmat didengarkan ketimbang lantunan suara dari master music sekalipun. Biarlah mungkin kedengaran lebay, tapi itu yang saya rasakan.

Tidak ada cita-cita untuk membangun rumah di luar kota. Karena kota Serang telah cukup memberi lahan bagi terbangunnya impian-impian masa remaja saya. Wajah-wajah yang membersamai semasa kuliah sangat apik tersimpan di benak dan spirit dalam badan ini. Pak Irfan, Pak Efi, dan orang-orang positif lainnya tanpa mereka sadar mereka telah menginspirasi dan mengalirkan spiritnya pada orang di sekelilingnya, dan tentu termasuk saya. Bersentuhan dengan mereka, berbicara, berkumpul dan melakukan aktivitas bersama mereka adalah sebuah keindahan dan seni tersendiri yang kemudian mengukir pola pikir saya. Itulah untungnya mertemu dan berdekat-dekat dengan ‘gardu’ ilmu.

Spirit yang saya terima tentu tidak akan saya biarkan mengendap di diri saya saja. Spirit perbaikan diri dan lingkungan, spirit mengabdi pada Sang Rabb, harus terus mengalir. Ya, mengalir ke segenap penjuru jiwa. Utamanaya adalah jiwa para pemuda. Sangat kerdil rasanya, kalau saya tidak bisa menularkan spirit ini kepada generasi berikutnya. Akan merasa berdosa dan merasa tak berperikemanusiaan jika menutup diri dengan menikmati sendiri segala pencapaian yang telah digenggam.

Maka haluan hidup saya buat kembali. Dan, saya memang melupakan beberapa impian masa ramaja saya. Menjadi trainer dan penulis. Dua impian itu akan menjadi target baru bagi hidup saya. Tidak boleh berpangku tangan menikmati kesenangan, padahal masih banyak orang yang butuh disentuh dan diajak berlari menyongsong mimpi-mimpi orang muda yang bersemangat. Alangkah terasa lengkap jika dua impian masa muda itu terwujud. Mungkin tidak mudah, tapi bukankah semasa kuliah dulu sudah terbiasa dengan segala ketersulitan? Kecanggungan? Dan kekurangan yang membuat diri minder? Harus terus disyukuri dan dinikmati. Sesulit apapun, pasti akan ada masanya semua impian akan tercapai. Meyakini kata-kata itu cukup membuat bersemangat. Walau nyatanya nanti tidak tercapai, itu tidak masalah sama sekali. Yang penting spirit memperbaiki tetap terjaga, semangat untuk terus bergerak menggesa diri terus bergelora. Kalau toh benar-benar tidak tercapai, mudah-mudahan anak cucu saya kelak bisa meneruskan. Dan orang-orang di sekeliling tentu akan bercerita, bahwa ayah atau kakeknya dulu orang yang keras kepala terhadap impiannya. Biarlah begitu.

Menjaga lingkungan social dan keturunan itu sangat penting. Mendidik atau mengajarkan apa yang kita tahu adalah hal yang sangat penting. Meski tidak berarti banyak, tapi jika membawa dampak positif walau sedikit, itu masih lebih baik daripada menjadi aib bagi perjalanan sejarah seorang manusia. Kerdil karena tidak memberi arti bagi lingkungan sekitar. Kecil karena tidak ada hal baik yang ditinggalkan. Hanya cerita-cerita masa lalu yang tidak terlalu membanggakan yang nanti akan manjadi saksi keberadaan diri kita di bumi.

Sudah masanya saya menikah. Membina keluarga. Sudah cukup banyak buku atau kajian-kajian tentang pernikahan yang di dapat di internet atau majelis-majelis ilmu. Tapi jika dibenturkan antara menggapai dua impian yang tersisa atau harus menikah dulu, maka jawabannya: sambil diikhtiarkan saja dua-duanya. Sama-sama baik ini. He he. Btw, siapa calon mempelai wanitanya? Yang dulu satu wajihah, organisasi, satu bidang atau satu penderitaan? Tidak perlu terlalu dipikirkan. Percayakan sama yang mengatur saja. Wilayah manusia hanya sebatas mengusahakan yang terbaik. Sip.

Bagaimana dengan teman-teman masa kuliah dulu? Mereka punya hidup masing-masing. Sesekali reuni mungkin akan seru. Bertemu di medsos sangat kurang leluasa. Tidak cukup bebas untuk melontarkan candaan sambil menepok-nepok atau menyenggol-nyenggol badannya seperti dulu saat sering ketemu. Kebanyakan mereka saya lihat sudah memiliki pegangan. Jadi guru, pengusaha herbal, buka toko sembako, penulis dan bebrapa telah menikah dan menimang seorang bayi! Wah!

Bapak, ibu dan Teh Nita sesekali tinggal di rumah ini. Bahagianya ketika melihat mereka tersenyum tanpa beban apa-apa. raut muka orang tua yang sudah mulai berkeriput memang sudah sangat sepantasnya menikmati hasil didikannya terhadap anak-anaknya. Sekarang berganti, anak yang mesti mengurus segala keperluan orang tua. Istirahatlah pak, bu. Teh Nita sekarang sudah membuka klinik sendiri. Itu juga bagian dari cita-citanya. Alhamdulillah. Indah sekali.

Soal dua impian yang masing menggantung tadi, tunggulah, segera saya jemput! 

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Subhanallah Ka Rizal, semoga tercapai ({})

Unknown mengatakan...

AAMIIN :)

Posting Komentar