Yayasan ODOT (One Day One Thousand) Indonesia yang sejak lima tahun yang lalu
digagas dengan perpeluh dan berjibaku dengan banyak hal mendebarkan akhirnya
berbuah hasil. Memang tidak mudah. Tapi semua kemajuan memang butuh perjuangan.
Di dunia ini tidak ada yang gratis, kata meraka yang berpaham matrealis. Dalam
hal ini saya juga sepakat, bahwa pencapaian besar mesti ditempuh dengan
kerja-kerja nyata yang istiqomah, langkah-langkah yang terus diayunkan. Sekecil
apapun langkah yang terpijak pasti ia akan membuat suatu kamajuan. Meski kecil.
Memiliki
yayasan amal memang bagian dari impian saya. Mengelus kepala anak-anak yang
lucu, anak yatim, dhuafa, atau anak-anak yang ingin belajar, terlepas apapun
status mereka. Kini saya benar-benar menikmati hidup. Punya yayasan, pesantren
wirausaha dan sebuah rumah makan besar yang memiliki cukup banyak cabang.
Mulanya enggan sekali melawan segala keterbatasan diri. Namun pada akhirnya,
dorongan besar yang dipicu oleh sebuah impian membuat diri nekat dan memberanikan
diri untuk menerjang apapun yang mesti ditaklukan. Tidak mudah. Memang begitu
sunatullahnya. Sunatullah juga bahwa tidak berubah nasib seseorang bila ia
sendiri tidak berusaha merubahnya. Cukup adil.
Rumah
yang cukup nyaman, dengan taman-taman yang luas yang dipakai untuk taman
pemdidikan bagi anak-anak dan remaja terasa begitu menyejukkan. Terus terang
saja, sempat terpikir bahwa saya seperti sedang berada di surga. Lantunan ayat
al-Qur’an dari mulut mungil anak-anak serasa seperti alunan nada yang tidak ada
tandingnya. Jauh lebih nikmat didengarkan ketimbang lantunan suara dari master
music sekalipun. Biarlah mungkin kedengaran lebay, tapi itu yang saya rasakan.
Tidak
ada cita-cita untuk membangun rumah di luar kota. Karena kota Serang telah
cukup memberi lahan bagi terbangunnya impian-impian masa remaja saya.
Wajah-wajah yang membersamai semasa kuliah sangat apik tersimpan di benak dan
spirit dalam badan ini. Pak Irfan, Pak Efi, dan orang-orang positif lainnya
tanpa mereka sadar mereka telah menginspirasi dan mengalirkan spiritnya pada
orang di sekelilingnya, dan tentu termasuk saya. Bersentuhan dengan mereka,
berbicara, berkumpul dan melakukan aktivitas bersama mereka adalah sebuah
keindahan dan seni tersendiri yang kemudian mengukir pola pikir saya. Itulah
untungnya mertemu dan berdekat-dekat dengan ‘gardu’ ilmu.
Spirit
yang saya terima tentu tidak akan saya biarkan mengendap di diri saya saja.
Spirit perbaikan diri dan lingkungan, spirit mengabdi pada Sang Rabb, harus
terus mengalir. Ya, mengalir ke segenap penjuru jiwa. Utamanaya adalah jiwa
para pemuda. Sangat kerdil rasanya, kalau saya tidak bisa menularkan spirit ini
kepada generasi berikutnya. Akan merasa berdosa dan merasa tak
berperikemanusiaan jika menutup diri dengan menikmati sendiri segala pencapaian
yang telah digenggam.
Maka
haluan hidup saya buat kembali. Dan, saya memang melupakan beberapa impian masa
ramaja saya. Menjadi trainer dan penulis. Dua impian itu akan menjadi target
baru bagi hidup saya. Tidak boleh berpangku tangan menikmati kesenangan,
padahal masih banyak orang yang butuh disentuh dan diajak berlari menyongsong
mimpi-mimpi orang muda yang bersemangat. Alangkah terasa lengkap jika dua
impian masa muda itu terwujud. Mungkin tidak mudah, tapi bukankah semasa kuliah
dulu sudah terbiasa dengan segala ketersulitan? Kecanggungan? Dan kekurangan
yang membuat diri minder? Harus terus disyukuri dan dinikmati. Sesulit apapun,
pasti akan ada masanya semua impian akan tercapai. Meyakini kata-kata itu cukup
membuat bersemangat. Walau nyatanya nanti tidak tercapai, itu tidak masalah
sama sekali. Yang penting spirit memperbaiki tetap terjaga, semangat untuk
terus bergerak menggesa diri terus bergelora. Kalau toh benar-benar tidak
tercapai, mudah-mudahan anak cucu saya kelak bisa meneruskan. Dan orang-orang
di sekeliling tentu akan bercerita, bahwa ayah atau kakeknya dulu orang yang
keras kepala terhadap impiannya. Biarlah begitu.
Menjaga
lingkungan social dan keturunan itu sangat penting. Mendidik atau mengajarkan
apa yang kita tahu adalah hal yang sangat penting. Meski tidak berarti banyak,
tapi jika membawa dampak positif walau sedikit, itu masih lebih baik daripada
menjadi aib bagi perjalanan sejarah seorang manusia. Kerdil karena tidak
memberi arti bagi lingkungan sekitar. Kecil karena tidak ada hal baik yang
ditinggalkan. Hanya cerita-cerita masa lalu yang tidak terlalu membanggakan
yang nanti akan manjadi saksi keberadaan diri kita di bumi.
Sudah
masanya saya menikah. Membina keluarga. Sudah cukup banyak buku atau
kajian-kajian tentang pernikahan yang di dapat di internet atau majelis-majelis
ilmu. Tapi jika dibenturkan antara menggapai dua impian yang tersisa atau harus
menikah dulu, maka jawabannya: sambil diikhtiarkan saja dua-duanya. Sama-sama
baik ini. He he. Btw, siapa calon mempelai wanitanya? Yang dulu satu wajihah,
organisasi, satu bidang atau satu penderitaan? Tidak perlu
terlalu dipikirkan. Percayakan sama yang mengatur saja. Wilayah manusia hanya
sebatas mengusahakan yang terbaik. Sip.
Bagaimana
dengan teman-teman masa kuliah dulu? Mereka punya hidup masing-masing. Sesekali
reuni mungkin akan seru. Bertemu di medsos sangat kurang leluasa. Tidak cukup
bebas untuk melontarkan candaan sambil menepok-nepok atau menyenggol-nyenggol
badannya seperti dulu saat sering ketemu. Kebanyakan mereka saya lihat sudah
memiliki pegangan. Jadi guru, pengusaha herbal, buka toko sembako, penulis dan
bebrapa telah menikah dan menimang seorang bayi! Wah!
Bapak,
ibu dan Teh Nita sesekali tinggal di rumah ini. Bahagianya ketika melihat
mereka tersenyum tanpa beban apa-apa. raut muka orang tua yang sudah mulai
berkeriput memang sudah sangat sepantasnya menikmati hasil didikannya terhadap
anak-anaknya. Sekarang berganti, anak yang mesti mengurus segala keperluan
orang tua. Istirahatlah pak, bu. Teh Nita sekarang sudah membuka klinik
sendiri. Itu juga bagian dari cita-citanya. Alhamdulillah. Indah sekali.
Soal
dua impian yang masing menggantung tadi, tunggulah, segera saya jemput!

2 komentar:
Subhanallah Ka Rizal, semoga tercapai ({})
AAMIIN :)
Posting Komentar